KOALA GALAU

Dua puluh jam sebelum hari H.

Hmm….sungguh indah betul wajahnya. Senyumnya sungguh manis. Ku ingin menggapainya. Namun pandanganku tiba-tiba teralihkan oleh bayangan wanita paruh baya. Entah mengapa digenggemannya hanya ada seember air. Perlahan Ia menghampiriku. Kasurku digoyangnya. Pintu kamarku berdecit perlahan seiiring dengan pekikan suara musik dangdut di telingaku. Kutatap mulutnya yang cuap-cuap sedang mengatakan sesuatu.

            “….Nguuun…!!!”

            “dah…..gi…..”

Hanya suara itu yang samar-samar mengisi kepalaku. Tiba-tiba muncul lagi dengan resonansi membentuk layangan dengan frekuensi nggak jelas.

            “ee..e….eee…Nguuun…”

            “Ahmaaaaaaaaaad……..BANGUUUNNNN!!!!”

Suaranya makin mendentum bagaikan letupan uranium dalam radiator nuklir. Entah mengapa tiba-tiba sebuah gulungan ombak tampak mendekat ke wajahku, dan…

            BBYYYUUUURRRRRRR………

            “Eh..Bangun meko! Tidur terus kerjamu.”,kata Ayunda.

Belum sempat mataku merasakan ulekan tanganku, makhluk aneh dengan sapu ijuk telah berdiri di sampingku.

            “Alamak…Tega kali kau! Janganmi pake siram segala kodonk. Bisa tongja’ mandi sendiri. Edede… heran nga’ nakke! ”

Delapan belas jam sebelum hari H.

Maaf kawan, kita bertemu dalam keadaan yang kurang menyenangkan. Hariku diawali dengan seember air dingin untuk membangunkan tubuh kerempeng ini. Ngomong- ngomong soal badanku, dulu tak segersang kini. Entah kalian mau tahu atau tidak, yang jelas temanku di SD memanggilku BONG-BONG. Sebutan bagi kaum yang merasa diri cukup normal saja namun dianggap sebagai kolektor lemak. Berkat hidup melarat selama hidup sendiri di kost, berbuah manis dengan program diet yang hiperintensitas. Biasanya diet diprogramkan dengan rencana yang matang, namun karena dompet yang “kanker (kantong kering)” mengakibatkan diriku mengidap busung lapar tahap awal.

Kawan, hidup sendiri itu tak sepenuhnya menyedihkan. Meskipun jauh dari lembutnya kasih sayang di rumah, ada banyak hal yang tak kau temui dalam safety circle hidupmu. Pengalaman tak terduga akan kau temui lewat mengembara di luar sana. Cobalah untuk mencari tantangan di balik kerasnya hidup. Aku yakin hal itu akan mengantarkanmu sebagai pribadi yang super.

Sudah kawan, itu sekedar tahap inisiasi seputar diriku. Selebihnya kalian dapat membayangkan sendiri bagaimana bentuk “raja minyak lemak” yang dipaksa menjadi korban busung lapar. Itulah diriku.

Kenapa aku bahas yang gak jelas,ya? Kamu tahu? Kok aku juga nggak tahu,ya? Terus siapa yang tahu,donk?

Hening.

Hari ini aku bakalan menyelesaikan tugasku. Sebuah tugas yang sebetulnya cukup menyenangkan. Namun bagaimana jika sedang galau? Apakah semudah itu?

Tugasnya cukup familiar bagi anak SMA bahkan cukup digandrungi kalangan remaja berbakat menulis. Kali ini yang menjadi tugasku adalah membuat CERPEN. Dari asal kata CERPEN, Cerita Pendek , aku sedikit bingung bagaimana mengawali cerita yang berdurasi pendek itu. Sekali lagi, entah kalian mau tahu atau tidak, yang jelas kalo soal mengkhayal dengan durasi panjang, aku ini cukup kompeten, kawan.

Dalam menulis cerpen yang menjadi peganganku yakni slogan 3P “Preparation Perfect Performance” atau istilah kasarnya “Penampilan yang Sempurna karena Persiapan yang Matang”. Hal ini untuk menjaga orisinilitas karya milikku. Siapa tahu nanti karya yang nggak jelas ini jadi best seller. Ngarep. Oleh karena itu perlu dirumuskan terlebih dahulu unsur intrinsiknya,kawan.

Catatan: buat kamu yang masih SMA, bagian unsur intrinsik ini langganan soal UN,loh? Kaget,kan? Aku aja kaget.

Langkah pertama yakni menentukan tema cerita. Inilah bagian yang sebenarnya membuatku paling bingung. Beberapa temanku lebih berminat untuk memilih tema yang katanya sangat universal, C.I.N.T.A.(maaf, bukan judul lagu band bapaknya adinda). Mereka begitu antusias. Setelah selesai yang ada malah kisah cinta dua insan yang dibodohkan oleh cinta.

Sebagai siswa yang rajin, taat beribadah, tidak sombong dan rajin menabung serta hidup dengan tuntunan dasa dharma pramuka, pantang bagiku untuk tidak mempersembahkan karya yang terbaik. Namun kata terbaik itu loh yang sering membuatku mumet sendiri. Gigiku ngilu memirkan tema yang pas agar mendobrak minat para pembaca.

Andrea Hirata, Habiburahman el Shirazy dan Raditya Dika adalah elemen yang terus mengisi kepalaku. Kalian kenalkan dengan mereka? Terlalu banget kalo nggak kenal. Itu,loh penulis novel yang bikin menguras air mata. Masa nggak tahu, sih? Sudahlah, aku juga kenal-kenal amat. Ketemu aja nggak pernah.

Sempat terbersit untuk “menggabungkan” mereka. Tapi yang terjadi malah kompleksitas yang menjadi paradox tak ada akhir. Mereka bagaikan segitiga tidak mungkin. Imposible. Mustahil. Incredible. Andrea yang terkenal karena letupan kalimat sastra dengan balutan saintis yang begitu menggelora harus beradu tajam dengan gaya konyol selengean Dika. Bagaimana pula dengan kang Abik yang kental dengan dunia religi tanpa adanya hal yang  berbau keduniaan tentang hidup seorang manusia.

Tak kunjung datang inspirasi dalam otakku, maka kuputuskan untuk mencuci pakaian apek milikku yang sudah seminggu menumpuk belum dicuci (penghematan deterjen,air, tenaga dan waktu, kawan).

            BBYUUURRR…..

            SRET…SRET…..SRET….!!!

            CEK KUCEK …..CEK KUCEK….CEEEEK…….

            DISIKAT,, BAANG,…,MAS…..TANTE,,…..OM!

            DIPERAS, BUUU!!!

            LAGI NYUCI, EUYY…PRIKITIEWW……..!!!!

Maaf, lupa disensor.

Gedubrak.

Lanjut lagi kawan masalah tugas membuat cerpen. Sedikit banyaknya aku menuangkan ide yang kupikir kreatif, yang terjadi malah tampak seperti seorang pria umur 17-an yang lagi curhat sama buku diary-nya. Aneh memang, kawan. Dulu waktu kelas 4 SD aku punya buku diary.

Siapa yang nanya?

Namun yang mestinya tentang tumpahan perasaan gundah gulana sang pemilik, yang ada malah dijadikan kertas cakaran buat PR matematika. Tapi itulah seninya matematika,kawan. Tak ada kertas, meja pun jadi. Jadi kalo kalian melihat banyak coretan dibangku milikku, hal itu adalah akibat malas merobek kertas sendiri.

Kenapa ceritanya nggak lanjut-lanjut? Ngalor-ngidul nggak jelas bener.

Enam belas jam sebelum hari H.

Kali ini yakni penentuan alur cerita. Setelah merenung sejenak, maka kupilih alur mundur. Sungguh kawan, tak ada yang seindah menceritakan masa lalu yang menjadi sejarah dalam babak universitas kehidupan. Entah bisikan darimana sempat melayang dipikiranku untuk menceritakan tentang my love story. Ini cukup sulit kawan. Aku nggak ada bakat kalo nulis soal cinta-cintaan. Aku ini bukan Casanova sang Begawan cinta yang bisa memikat hati kaum hawa dengan kalimat Iblis. Namun bisa kuceritakan sedikit. Sedikit aja,ya? Nggak usah banyak-banyak nanti kalian bakalan menangis baca cerita aku yang sumpah nggak banget. Nggak usah,ya? Nggak usah, ya Bo’. Cap Cus!!!

Saat menulis penggalan my love story ini,sebenarnya aku lagi dengerin lagu dari Judika-Setengah Mati Merindu– dan Afgan-Dalam Mihrab Cinta– lewat acara 20 Tembang Terpopuler Radio Telstar. Mungkin jika kalian pernah mendengarnya, hampir 72 % telah menjadi intisari dari cerita berikut. Kalian beruntung kawan karena untuk pertama kalinya masalah ini aku publikasikan.

Emang penting?

Aku paling anti dengan yang namanya mengumbar aib sendiri. Nggak kayak Raditya Dika yang total banget tentang masalah yang satu ini.

Kutemukan “Dia” dalam keadaan yang cukup aneh. Kami tak pernah berkenalan sebelumnya. Bahkan dia mungkin tidak mengenalku. Aneh,kan? Ini akibat kebiasaanku mengagumi seseorang dalam diam. Aku tak pernah mengajak berkenalan untuk hal yang berbau “virus merah jambu” karena bagiku hal yang demikian masih tabu,kawan.

Cemen bener.

Tak ada yang namanya PDKT atau semacamnya karena itu bukan gayaku. Jadi bayangkan sendiri bagaimana rasanya jatuh hati dengan spesies langka milikku ini.

Singkat cerita, selama 730 hari kami tak pernah berinteraksi secara langsung. Entah bagaimana caranya aku bisa hidup dengan cara yang demikian. Hingga akhirnya dia pergi dan tak pernah lagi berjumpa dengannya. Bohong kawan jika aku tak merindukannya. Selang beberapa waktu hidupku seperti penggalan lagu Afgan di atas. Namun tiba-tiba aku bertemu dengan seseorang yang mengingatkanku padanya. Entah sudah menjadi takdir atau tidak, yang jelas ini tak ada di benakku sebelumnya.

Perasaan aneh itu kembali menguap di kepalaku. Membuncah di dada. Jika dianalogikan mungkin seperti balon udara Zeppelin yang diisi dengan gas helium yang tiba-tiba terkena percikan bunga api hingga meledak hingga ke medula oblongata otakku. Hatiku kembali bimbang. Senyum tak jelas ditengah kesendirian. Intensitas lamunanku kembali melewati ambang batas normal akibat senyumannya, teduh wajahnya, ketulusan lisannya, atau sipu malu matanya. Semua ketenangan hidup seakan bangkit setiap melihatnya di kejauhan meski tak sempat memiliki keberanian pada diri ini untuk lebih mengenalnya.

Aku pikir cukup sekian dulu cerita tentang si “Dia”. Bukannya tidak professional kawan, namun masih ada bagian yang harus dijelaskan tentang kehidupanku.

Tanggung amat.

Dua belas jam sebelum hari H.

Alhamdulillah, kawan. Telah kutunaikan kewajibanku sebagai seorang hamba kepada Tuhannya. Lanjut lagi kawan. Oh iya, hampir lupa mengklarifikasi sesuatu. Ini tentang gaya bahasa yang aku gunakan. Mohon maaf jika kalimat yang kugunakan tidaklah se-gaul yang saat ini lagi trend. Contohnya saja, kata gue atau elo. Aku nggak bisa buat cerita yang gaya bahasanya kayak gini.

            “Ehh..ehhh..loe thau ngghak sieeeh.. khalo gue ithu gaool bangetzzz

Aku sangat prihatin kawan, melihat remaja masa kini yang katanya makhluk abad-21 tapi melestarikan bahasanya sendiri belum mampu. Gini-gini kawan, aku bangga banget dengan yang namanya bahasa Indonesia. Ya, meskipun dalam cerita ini nggak 100 % menggunakan bahasa yang benar (kalo baik, masih ada). Sekilas info : setiap tahun, mata pelajaran yang nilainya rendah di UN selalu bahasa Indonesia. Sungguh memiriskan kawan.

            Ongomong-ngomong soal kehidupan masa SMA-ku, mungkin bakalan menarik kalo diungkap kembali. Pada fase ini kutemukan berbagai pelajaran hidup. Dari yang bahagia, lucu, tragis, sedih nan melankolis hingga sesuatu yang sangat berarti dalam hidup. Kutemukan yang namanya persahabatan dan persaudaraan. Mereka yang selama ini telah menjadi bab 5 biografi hidupku telah membangunkanku dari paradigma “sendiri lebih indah” hingga perlahan mulai luruh seiring hidup bersama mereka.

            Teman adalah cerminan dari diri kita. Dari mereka kita dapat mengenal diri sendiri secara objektif. Kenangan manis tak terlupakan bisa bertemu dengan orang-orang yang berbeda. Saling mengerti dan memahami satu sama lain untuk menciptakan kehidupan yang berbanding lurus dengan harapan setiap insan. Saling mengisi, mengasihi dan menyangi sebutan bagi ikatan persahabatan.

Meskipun tak bersama selamanya, mereka telah memberikanku arti penting tentang sahabat dalam hidupku. Terima kasih kawan untuk waktu yang pernah kalian luangkan untuk sesuatu yang bagiku begitu berarti.

Prinsip hidup no. 5:

Kita tidak hidup sendiri. Hidup kita bukan berarti kebahagian hanya untuk kita. Alangkah indahnya, jika orang yang kita cintai tersenyum bahagia karena kita

Sepuluh jam sebelum hari H.

Sekarang saatnya apaan?

Oh,iya, sudah ingat! Maaf, tadi sedikit melamun. Biasa kawan, mikirin tugas lain. Lanjut ke bagian penokohan dan latar cerita. Entah aku yang terlambat menyadari atau kalian udah tahu duluan, cerita ini kok nggak karuan banget? Tokohnya siapa…latarnya dimana?

Bicara soal tokoh, akan kuceritakan seseorang yang selalu menginspirasi hidupku. Masih ingat dengan perempuan yang menyiramku dengan air di awal cerita tadi? Ya, dia adalah kakakku, Ayunda Dikara (nama pena,red).

Dalam keluarga kecil kami, ia adalah pengharapan bagi ibu dan ayah. Segala impian orang tua ku disandarkan padanya. Ia begitu patuh, rajin, taat beribadah, salehah, ulet, telaten, selalu semangat dan tak pernah ragu pada kemampuan ataupun takut akan kegagalan. Awalnya pernah muncul kecemburuan padanya. Namun tanpa kusadari, ia begitu menyayangiku dan peduli padaku. Ketika hati dan semangatku jatuh, ia selalu memberiku nasehat dan petuah tentang hidup. Bagaimana sabar dalam menghadapi setiap masalah yang kerap menghampiriku.

Terima kasih tak terkira atas segala nasehatnya. Ia-lah inspirator bagiku. Seseorang yang ingin kulampaui. Seseorang yang ingin kugapai segala pengaharapan Ibu dan Ayah kami. Mewujudkan segala harapan mereka bertiga adalah tujuan hidup nomor 2 bagiku. Tak ada yang paling menjadi anugrah bagiku selain membuat mereka bahagia dan bangga memilikiku. Doa dan ikhtiarku tertuju kepada segala impian mereka. Jika kalian pernah menonton film Bollywood yang dibintangi Shah Rukh Khan, yakni Kabhi Kushi Kabhi Gham,ada sepotong dialog yang begitu berkesan bagiku. Sebuah pesan yang disampaikan seorang kakak kepada adiknya. Kira-kira seperti ini

“….Jika kau ragu atau takut, pejamkan matamu. Ingat Ibu. Ingat Ayah. Maka akan kau temui keajaiban dalam keraguanmu….”

Enam jam sebelum hari H.

Sepertinya sudah mendekati akhir dari cerita syahdu ini. Di bagian ini akan kuceritakan tentang prospek rencana yang sedang kubangun. Insya Allah, sehabis menyelesaikan cerita ini, aku bakalan mempermantap salah satu megaproyek  hidupku. Menghadapi Ujian Sekolah, Ujian Nasional dan Ujian SNMPTN adalah agenda penting saat ini.

Bicara soal cita-cita sungguh menarik bagi setiap orang, kawan. Entah sejak kapan, aku mulai bermimpi untuk kuliah di luar negeri semisal Harvard, Cambridge, Oxford atau Universitas Tokyo, Jepang. Sungguh berat,kawan. Bahkan terkadang mustahil bagiku. Namun bagiku mimpi adalah awal dari sebuah sukses.

Bermimpilah! Dan Allah swt akan menjamah mimpimu

Atau kalimat ini

            “ Tidak semua yang diperhitungkan dapat dihitung, akan tetapi tidak semua yang dihitung dapat diperhitungkan.(Albert Einstein)

Salah satu kunci sukses selain usaha, ada faktor penting lain yakni DOA dan TAWAKKAL.

            “ Doa adalah kunci dari gerbang kemustahilan

Begitu pula dengan disiplin waktu yang berbanding lurus dengan usaha dan hasil akhir

“Usaha (W) =  Energi Potensial = m.g.h,

dimana m = bakat setiap orang, g = takdir dari Tuhan dan h = besar resiko yang Anda pilih”

Dua jam sebelum hari H.

OK, sekarang adalah bagian penutup. Aku tahu kalo kalian pasti udah nggak sabar banget nunggu bagian ini.

Soalnya panjang banget.

Maaf, kawan jika durasi cerita ini agak membosankan dan bertele-tele. Ini CERPEN atau CERPAN,ya?  Tapi seru,kan? Iya,kan? Iya,dong? Iya aja daaaaaah!

Wuissssh……delapan halaman, kawan. Siapa yang nggak bete’ baca cerita yang nggak jelas ini? Tapi yang jelas, sejak awal kalian pasti bertanya-tanya, kejadian apa yang menimpa aku sampai mutusin milih judul cerita ini dengan KOALA GALAU.

            Koala adalah salah satu hewan yang cukup nyebelin tapi tetap bikin excited karena tampangnya yang lucu. Kalian tahu nggak apa yang bikin Koala nyebelin? Sampai-sampai Ayunda julukin aku dengan nama “Si Koala” segala.

            Sebagian besar waktu Koala dihabiskan dengan TIDUR. Nggak tanggung-tanggung, mereka tidur sampe 20 jam sehari dan sisanya digunakan untuk makan,dll. Sekarang tahu,kan kenapa Ayunda nyiram aku pake air?

Untuk menyelasaikan tugas ini sebenarnya perasaan aku lagi galau.

Nggak usah nanya kenapa?

Karena saking galau-nya Si Koala, yang tadinya tidur sampai 20 jam malah sebaliknya, tidur cuma 4 jam untuk menyelesaikan cerita ini.

            Akhirnya cerita ini selesai juga. Jadi nggak ada lagi yang nagih ngumpulin tugas. Aku berharap, cerita ini bukan sekedar ajang cuap-cuap saja atau cari nilai, tapi aku berharap akan ada banyak nilai positif yang bisa diimplementasikan dalam kehidupan yang indah ini. Jika ada penulisan kalimat yang menyinggung, aku mohon maaf setulus hati. Dibenakku hanya ada satu, yakni bagaimana caranya menuangkan ide dengan menghibur dan menyentuh palung jiwa hingga terenyuh kagum dengan kalimat sederhana ini.

SELESAI

KOALA GALAUDua …